Oleh: HARTOYO
Lembaga Penelitian
Dibuat: 2007-12-10 , dengan 1 file(s).
Keywords: ETNIK
LAMPUNG DENGAN ETNIK PENDATANG PASCA KONFLIK,PASCA KONFLIK BUNGKUK, LABUNG, LAMPUNG TIMUR
Subject: Golongan Sosial
Call Number: 305.8 Har m c.1
Abstrak
Pada awal reformasi konflik terjadi di mana-mana, termasuk konflik antar kelompok etnik. Tetapi, setelah itu mulai reda dan banyak hubungan antar mereka yang berkonflik baik kembali. Di Kecamatan Jabung pada akhir tahun 1988 telah terjadi konflik antara orang Lampung dengan orang Pendatang (Jawa) yang dikenal dengan konflik Bungkuk, karena terjadi di wilayah desa Bungkuk. Setelah 4 tahun konflik berlalu di antara mereka sekarang juga sudah mulai baik kembali.
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menemukan beberapa fenomena baru tentang model pengelolaan keserasian hubungan antar etnik di pedesaan Lampung, terutama dalam upaya meningkatkan kualitas keserasian hubungan
antar anggota masyarakat yang beragam latar belakang etniknya. Secara khusus,
penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi (1) berbagai stereotip etnik dalam hubungan antar etnik Lampung dengan etnik Jawa; dan (2) faktor penyebab terjadinya konflik Bungkuk. Untuk memperoleh informasi yang lebih mendalam
tentang (3) strategi dan mekanisme pengelolaan konflik Bungkuk, sehingga fungsional terhadap peningkatan kualitas keserasian hubungan antar etnik selanjutnya; dan (4) model pengelolaan keserasian sosial pasca konflik Bungkuk.
Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Jabung, Lampung Timur, khususnya terhadap masyarakat di wilayah konflik Bungkuk. Data dikumpulkan melalui
wawancara mendalam dan dokumentasi. Wawancara dilakukan terhadap para tokoh masyarakat, adat, pemuda, agama, serta aparat Desa Lampung dan Jawa, dan aparat Kecamatan yang terlibat langsung dalam penanganan konflik serta
pasca konflik. Data diolah dan dianalisis secara deskriptif analiitik kualitatif Hasil penelitian diperoleh bahwa : (1) Stereotip antara etnik Lampung dengan etnik Pendatang .(Jawa) yang menjadi konflik latent adalah sebagai berikut: Etnik Lampung oleh etnik Jawa dikatakan sebagai pemalas, harga diri tinggi, angkuh, dan royal. Sedangkan etnik Pendatang (Jawa) oleh etnik Lampung dikatakan sebagai orang pendatang yang tidak tahu diri dan mau menyesuaikan diri, rakus,
penjajah dan perusak adat budaya Lampung. (2) Konflik Bungkuk dimulai dari masalah pribadi antar etnik Lampung dengan Jawa, kemudian meluas menjadi konflik antar kelompok etnik. Setelah konflik antar pribadi memuncak kemudian
diikuti pembunuhan terhadap seseorang oleh sekelompok orang, baik dari etnik Lampung maupun dari etnik Jawa. (3) Pengelolaan konflik efektif dilakukan secara integral dengan melibatkan beberapa eleman seperti aparat keamanan (TNI
dan Poiri), Aparat Kecamatan dan Kabupaten, para tokoh masyarakat, tokoh adat dan tokoh pemuda. Penyelesaian konflik tersebut diakhiri dengan kesepakatan bersama dengan menandatangani surat perjanjian damai. (4) Terdapat tiga model
pengelolaan keserasian hubungan antara etnik Lampung dengan etnik Pendatang (Jawa) yang efektif dilakukan, yaitu model kultural dengan pendekatan olah raga, pendidikan dan kesenian. Model tradisional melalui ikatan antar para tokoh adat, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda. Model teritorial melalui penjagaan wilayah
utama potensi konflik yang terletak di sepanjang jalan penghubung antara desa Bungkuk dan desa Sumber Rejo.
Translation:
SUMMARY
At the end of 1988, a conflict between native Lampungese and Javanese migrant exploded in Bungkuk Village. After 4 years, the conflict has ceased and the condition is much better.
The research has aims to:identify: (1) ethnic stereotypings among those two ethnics; (2) factors influencing and triggering the conflict. The research had also intentions to compile information regarding (1) strategy and mechanism to manage the conflict in Bungkuk Village; and (2) regarding management model for
post-conflict social harmony.
The research was carried out in Jabung Sub-district, East Lampung. Data were collected using in-depth interviews and documentation. Interviews were directed towards government officials and informal leaders. Data were, then, analyzed using qualitative-descriptive methods.
The results show that there are some stereotypings : (1) Lampungese are lazy,
arrogant, consumptive. The Javanese are ignorant, greedy, don’t want to adapt to
the native culture, have the mentality as colonialist, and destroy the native culture;
(2) conflict in Bungkuk was triggered by personal problem which then spreaded
and became ethnic-group conflicts after killing invloved in the personal conflict ;
(3) conflict can effectively be managed by integrating all community elements and
government officials which lead to peace agreement; (4) three model for postconflict
social harmony are cultural, traditional, and territorial models.
Hubungi kami:
DL Name: Lampung University Library
PublisherID: LAPTUNILAPP
Organization: Lampung University
Contact: Perpustakaan Universitas Lampung
Address: Jl.Prof. Dr. Soemantri Brojonegoro No. 1
City: Bandar Lampung
Region: Lampung
Country: Indonesia
Phone: 62-721-706352
Fax: 62-721-706351
Admin Email: dedi[at]unila.ac.id
CKO Email: library[at]unila.ac.id
http://digilib.unila.ac.id/go.php?id=laptunilapp-gdl-res-2007-hartoyo-1006